Kapolri Tegaskan Tidak Benar Tentang Isu Tenaga Asing Serbu Ke Morowali

Kapolri Tegaskan Tidak Benar Tentang Isu Tenaga Asing Serbu Ke Morowali – Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan gosip tenaga kerja asing yg menempur ke pelbagai daerah diyakinkan tdk benar alias hoax. Meskipun demikian, dia membetulkan kalau investasi beberapa lokasi industri sebagian besar dipunyai pihak asing, seperti China.

Tito mengakui telah kerjakan penelusuran langsung ke tempat yg dimaksud diserang tenaga kerja asing salah satunya dalam sebuah lokasi industri yg produksi stainless steel jadi baterei lithium di lokasi Morowali, Sulawesi Tenggara. Nyata-nyatanya dari jumlahnya 32.000 karyawan yg kerja disana, 10 % berstatus tenaga kerja asing.

“Saya dengan panglima ada kesana berbarengan segala petinggi Mabes Polri, TNI, Menaker, Ditjen Imigrasi, semua hoax semua. Memang investasi dari China, lantaran mereka punyai technologi serta uang,” kata Tito waktu berikan sambutan peresmian masjid di Mapolda Jawa barat, Jalan Soekarno-Hatta Kota Bandung, Jumat (15/2).

Keadaan sarana serta pertalian antar pegawai dia klaim sehat. Semua hak pekerja dikasihkan dengan baik, seperti pemenuhan makan sejumlah 3 kali satu hari. Pegawainya tidak hanya dari lokal Morowali, namun dari seluruhnya Indonesia.

Banyak pegawai dari asing dipekerjakan untuk mengatur mesin yg kompleks, sekalian mengajari pekerja dalam negeri. Rancangan itu dijalankan seperti di Freeport, Papua dimana pada tahun 1967 tenaga kerja dikuasai tenaga kerja asing, khususnya asal Amerika. Seiring waktu berjalan, technologi di freeport dikuasai tenaga kerja lokal.

“Saat ini bila ada hanya satu %. Serta direkturnya kebanyakan orang Indonesia. Bahkan juga wakil direkturnya orang papua asli. Direkturnya orang manado, serta komisarisnya senior saya bekas pangdam,” kata Tito.

Gosip berbeda yg nyata-nyatanya hoaks yaitu masalah tentara dari Tiongkok yg telah masuk ke lokasi Morowali. Dia meyakinkan kalau tenaga kerja asing yg berada di sana adalah staf pakar. Mengenai manajer keamanannya yaitu seniornya berpangkat bintang tiga.

“Saya pun bertemu, bekas kapolda sulteng, itu bintang tiga, Komjen satu tingkat dengan kang Irwan. Ia yaitu manjaer security disana. Ia yaitu kepala tubuh intelejen kepolisian, tidak akan mungkin ia punyai kekuatan untuk membaca,” terangnya.

Perihal berbeda yaitu kalau perusahaan batu bara yg dari sana tdk menjualnya produknya ke luar negeri. Lantaran pabrik disana lantas butuh batu bara jadi bahan baku pokok. Tito memasukkan, tersedianya lokasi industri itu, perkembangan ekonomi di Sulawesi Tengah tumbuh 19 %.

“Itu perkembangan ekonomi karena ada investasi hampir Rp 100 triliun, 2 tahun kembali Rp 123 triliun, itu perkembangan ekonominya 38 %. Jadi kita janganlah cuma mimpi 5 %. Saya bicara ini ada sarana, tak mungkin bohong,” terangnya.

Polisi dalam soal ini bekerja untuk mengontrol kondusivitas negara. Implikasinya dapat menyentuh perkembangan ekonomi. Bila satu negara atau lokasi itu tdk damai, jadi investor akan tidak tertarik memberikan modal.

Menurut dia, benyak investor yg memberikan modalnya di Indonesia jadi roda serta perkembangan ekonomi terus akan melesat. Demikian sebaliknya, kalau tdk ada investor, jadi berlangsung pemabatan perkembangan ekomomi. Hal semacam itu bakal berpengaruh pada meningkatnya angka kriminalitas.

“Disaat berlangsung ketidakamanan, semua pebisnis kabur. Karenanya, kestabilan politi kemanan jadi kunci buat kita buat untuk negara maju. Keamanan ini sama juga dengan kesehatan, mesti dirawat,” tuturnya.