Nenek 63 Tahun di Sulsel Berjuang Cari Nafkah dengan Jualan Telur Asin

Nenek 63 Tahun di Sulsel Berjuang Cari Nafkah dengan Jualan Telur Asin – Di usianya yang renta, Nenek Hamilah (63), masyarakat Anrong Appaka, Kecamatan Pangkajene, Pangkep, Sulawesi Selatan, masih tetap selalu mencari nafkah. Ia pilih menjajakkan telur asin serta ayam kampung di muka suatu mini market di tugu Bambu Runcing, Pangkep, dibanding jadi pengemis.

Semenjak suaminya wafat 10 tahun yang lalu, ia jadi tulang pungggung buat ke-3 orang anaknya. Beberapa salah satunya telah ada yang telah berkeluarga serta bahkan juga mempunyai anak. Akan tetapi, pekerjaan anaknya yang tidak menentu, memaksa dianya harus juga turun tangan mencari nafkah.

Tiap-tiap pagi, ia menyewa tukang ojek untuk mengatarkan dianya ke tempat jualannya itu. Waktu petang, ia lantas pulang kembali pada tempat tinggalnya, dengan juga menyewa tukang ojek. Di muka mini market, ia duduk sekalian menjajakkan jualannya ke pengunjung yang hadir.

” Telah lama saya jualan telur berikut. Mungkin saja telah lebih dari 10 tahun. Dahulu saya berjualan keliling berjalan kaki, tetapi saat ini tidak mampu lagi, karena itu saya pilih disini sesudah diberi izin, ” kata Hamilah, Selasa (14/08/2018).

Walau banyak pengunjung yang bersimpati, nenek Hamilah malas terima pemberian uang tanpa beli telur dagangannya. Ia seakan mengawasi diri serta tidak ingin dimaksud pengemis yang hidup dari belas kasih sesorang.

Telur yang ia jual itu, didapat dari tetangganya. Dari tiap-tiap butir telur, ia cuma mendapatkan keuntungan Rp 200 sampai Rp 500. Bila mujur, karena itu ia dapat mendapatkan keuntungan bersih sampai Rp 25 ribu/harinya. Akan tetapi, ia juga terkadang tidak mendapatkan apa-apa serta cuma dapat mengelus dada.

” Yah untung-untungan, dapat sampai Rp 25 ribu, tetapi terkadang juga cuma untuk biaya bentor (becak motor) pulang pergi. Namanya juga usaha. Saya tidak ingin dikasihani, ditambah lagi disebut pengemis, ” lanjutnya dengan memakai bhs Makassar.

Oleh anaknya, Nenek Hamilah telah sering dilarang untuk pergi jual telur karena kasihan. Akan tetapi, ia mengakui tidak tahan tinggal didalam rumah cuma berdiam diri karena terkadang dia justru jatuh sakit. Argumen inipun membuat anak-anaknya tidak dapat melarang dianya masih berjualan.

Hasil dari keuntungannya jual telur, Halimah sisihkan untuk kepentingan dapur dan jajan untuk dua orang cucu yang masih tetap duduk di bangku Sekolah Basic serta tinggal serumah dengannya. Baginya, memberikan serta menghidupi dianya adalah kebanggaan.