Revolusi Jamu Tradisional Di Cilacap Dapat Rekor Muri

Cilacap – Dasa warsa 1990-an, produksi jamu tradisionil di Cilacap, Jawa Tengah, mulai menggeliat serta meraih puncak pada th. awal millenium ke-2. Beberapa ratus industri jamu taraf rumahan serta usaha kecil menengah (UKM) bertebaran.

Lahirnya beberapa produsen jamu dadakan itu hampir tidak termonitor.

Berada di pada mereka yang lalu memakai beberapa bahan kimia, di jamu tradisionilnya. Tubuh Pengawasan Obat serta Makanan (BPOM) juga tidak tinggal diam, beberapa produsen jamu illegal serta beresiko juga digaruk. Pasalnya, mereka tidak berizin serta disangka memakai beberapa bahan kimia yang beresiko.

Walau sebenarnya, jamu tradisionil diklasifikasikan jadi obat yang memakai beberapa bahan alami atau herbal, nonkimiawi, serta pasti tidak membahayakan.

Aktor usaha jamu juga berjatuhan satu persatu serta alami masa susah. Terlebih, pabrik besar mulai memainkan jamu tradisionil serta herbal jadi alternatif penyembuhan, bersamaan semakin moncernya obat-obatan yang berbau tradisionil serta herbal.

Merasakan industri jamu tradisionil makin tersungkur, beberapa aktor jamu tidak tinggal diam. Mereka menggandeng BPOM, Pemerintah Daerah (Pemda) Cilacap serta beragam pihak beda untuk merevitalisasi produksi jamu Cilacap yang pernah berjaya, bahkan juga diluar Pulau Jawa.

Perkumpulan Aktor Jamu Alami Indonesia (PPJAI) Cilacap mengadakan pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dengan tindakan minum jamu dengan peserta paling banyak ini. Sejumlah 20. 188 orang dari pelajar serta warga serentak meminum jamu di Alun-alun Cilacap, Jumat, 16 Maret 2018.