Said Aqil Menilai Puisi Fadli Zon Sebagai Bentuk Penghinaan Terhadap Sesepuh NU

Said Aqil Menilai Puisi Fadli Zon Sebagai Bentuk Penghinaan Terhadap Sesepuh NU – Puisi “Doa yg Diganti” karya Fadli Zon memperoleh reaksi keras dari Ketua Umum PB NU, KH Said Aqil Siradj. Menurut Said Aqil, puisi politisi Gerindra itu bentuk penghinaan pada sesepuh NU, Kiai Maimoen Zubair atau Mbah Moen.

Menurut Said Aqil, puisi itu membuat masyarakat NU berang terhadap figure Fadli Zon. Lantaran, untuk NU, figure Mbah Moen adalah kiai sepuh yg dihormati.

“NU berang. Kiai Maimoen itu kiai Sepuh. Telah 94 tahun. Allah itu menghargai orang yg umur lebih dari 80 tahun. Telah dipangkuan Tuhan itu namanya,” kata Said Aqil di acara Rakornas ke IV NUCare-LazisNU di Pondok pesantren Diponegoro, Sleman, Jumat (15/2).

Menurut Said Aqil, orang yg tetap berumur lebih muda mesti menghargai serta tdk berbuat yang kurang etis orang-tua. karenanya Fadli Zon diminta memohon maaf terhadap Kiai Maimoen.

“Untuk PBNU, kita mengharapkan memang Fadli Zon sadarlah. Jadi orang berbudaya, beradab, berakhlak, tinggal mohon maaf saja. Apakah sich beratnya? Bila tidak pingin, ya terserah bila ingin kualat,” tutur Said Aqil.

Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini memberi tambahan, Fadli Zon memang gak menyebutkan nama Kiai Maimoen dalam puisinya, tapi keluarga besar NU tahu bila puisi itu diperuntukan terhadap Kiai Maimoen. Lantaran, puisi itu dikeluarkan Fadli Zon sekejap selesai terjadinya satu momen.

“Kami mengharapkan Fadli Zon hadir langsung ke Mbah Moen serta memohon maaf. Meski tdk menyebutkan nama (dalam puisinya), kami pahamlah puisi itu dikeluarkan persis sesudah satu momen yg barusaja berlangsung. Dalam pandangan keluarga besar NU, Fadli Zon udah mencederai telah gak sopan terhadap orang-tua kita sesepuh NU Kita mengharapkan selekasnya memohon maaf. Selekas mungkin,” ujar Helmy.

Awal kalinya,Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menyatakan jika puisinya sekalipun gak mengejek serta bukan diperuntukan terhadap Mbah Moen. Menurut dia, ini merupakan ‘gorengan’ lawan politiknya.

“Bila orang yg punyai literasi coba dicek jelas, saya berkali-kali jelaskan itu bukan buat Mbah Moen, Mbak Moen itu saya hormati, saya ucap kau penguasa tengik, memang Mbah Moen penguasa? Ya lagian itu puisi, akan tetapi bila pengin digoreng-goreng ya goreng saja silahkan,” kata Fadli di lokasi Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2).

Fadli menampik bila dituntut memohon maaf bab puisinya. “Untuk apakah, saya tdk ada tindakan yg lawan hukum disana,” katanya