Sekitar 25 Ribu Anak Per Bulan Akses Pornografi Karena Lemahnya Pengawasan Orang Tua

Sekitar 25 Ribu Anak Per Bulan Akses Pornografi Karena Lemahnya Pengawasan Orang Tua – Lemahnya pengawasan orangtua pada anak-anak, ditandai berubah menjadi pemicu khusus tingginya angka paparan pornografi oleh anak. Tiap-tiap bulan, 25 ribu anak membuka pornografi. Dari banyaknya itu, 10 prosentasenya beresiko langsung pada kekerasan sexual anak.

Asisten Deputi, perlindungan anak dalam keadaan darurat serta pornografi Kementerian Pemberdayaan Wanita serta Perlindungan Anak, Dermawan menyampaikan, pihaknya selalu mengerjakan usaha pemasyarakatan pada banyak orangtua berkenaan mencegah pada aksesibilitas pornografi oleh anak.

“Kita mau mengerjakan usaha preventif pada pornografi. Masalahnya, kita gak dapat menjumpai disaat anak itu terkena pornografi. Tidak sama dengan narkoba, kita dapat lihat,” kata Dermawan di SD Bethseda, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (15/2).

Diterangkan ia, rata-rata paparan pornografi oleh anak dilaksanakan lewat gawai yg dibuka anak pada internet. “Kebanyakan ini berada pada game online yg dimainkan anak. Orangtua mesti mengamati ketat pemanfaatan anak pada internet, tidak hanya itu, ada pula dengan tv kabel,” ujar Dermawan.

Dari 1x paparan pornografi yg dibuka, anak selanjutnya kembali ingin tahu serta disaat anak mengulang-ulang sampai 20 kali gambar porno itu, anak bakal teradiksi. “Jadi ini berubah menjadi adict, disaat anak-anak memirsa 20 hingga sampai 30 kali, hingga muncul kemauan buat menyaksikan selalu san pada akhirnya mencontoh,” ujarnya.

Dalam catatan Kementerian PPA di tahun 2018 saja, terdapt 2.536 perkara paparan pornografi pada anak. “Kasusnya di tahun 2018 tempo hari, hampir 2.536 perkara. Efeknya pada kekerasan. Pornografi sendiri per bulan 25 ribu anak yg membuka,” ujar ia.

Dikedepankan Dermawan, kebolehan anak memgakses pornografi ini, umumnya berlangsung sebab lemahnya pengawasan orangtua pada anak-anak. “Itu kebanyakan berlangsung sebab minimnya pengawasan orangtua. Rata rata terakses dari internet, ada pula dari aliran tv kabel, utamanya ialah pengawasan orangtua,” ujar ia.

Tidak hanya lingkungan anak dalam rumah, lingkungan di sekolah anak pun musti berubah menjadi perhatian banyak orangtua siswa serta guru. “1/2 dari 84 juta anak itu ada di sekolah, mereka memakan banyak waktu sampai 8 jam ada di sekolah. Sekolah pun musti membentengi dari pornografi, satu diantaranya pengawasan pada gadget anak,” ujarnya.

Diakui dia, lewat cara kuantitatif belum pula punyai data tentu, efek kekerasan seksual imbas dari pornografi yg dibuka anak. “Namun lewat cara kualitatif, kwalitasnya bertambah. Berarti mereka tidak cuma menyaksikan, namun telah mengerjakan,” kata Dermawan.